Plh Sekda Papua Minta Rumah Sakit Tetap Buka Pelayanan Kesehatan The Acting official of Papua Regional Secretary Ask for Hospital to open Health Services
Pemerintah Provinsi Papua meminta seluruh rumah sakit agar tak menutup akses pelayanan kesehatan meski mengalami kendala kekurangan tenaga kesehatan maupun daya tampung ruang perawatan yang penuh. The Provincial Government of Papua asks all hospitals not to close access to healthcare apart from the limitations of health workers and the full capacity of treatment rooms.
Pemerintah Provinsi Papua meminta seluruh rumah sakit agar tak menutup akses pelayanan kesehatan meski mengalami kendala kekurangan tenaga kesehatan maupun daya tampung ruang perawatan yang penuh.
Pelaksana Harian (Plh) Sekda Papua Muhammad Musa’ad berharap meski hanya menyediakan ruang rawat darurat yang kecil, pelayanan kesehatan bagi pasien umum maupun Covid-19 mesti tetap mesti berjalan 1x24 jam.
“Kita sudah melakukan pertemuan dengan seluruh manajemen rumah sakit, termasuk RS. Bhayangkara dan RS Provita yang menyatakan menutup sementara pelayanan pasien umum dan Covid-19 akibat tenaga kesehatannya terpapar virus corona dan ruang perawatan penuh”.
“Sehingga tadi saya sampaikan rumah sakit tidak boleh ditutup, sekecil apapun harus dibuka. Kalau sebagian ruangan ditutup, itu biasa tapi kalau pagar itu ditutup yang tidak biasa. Memang kita memaklumi kondisi rumah sakit yang sulit, tapi tidak ada alasan untuk menutup kalau bukan karena pailit,” terang Musa’ad, Rabu (15/7/2020).
Sementara menyikapi kendala pelayanan di berbagai rumah sakit, sambung Musa’ad, pihaknya telah menginstruksikan dinas kesehatan untuk mengecek kekurangan yang ada, guna selanjutnya dilakukan upaya penanganan.
Selanjutnya, Pemprov Papua akan bersurat ke gugus tugas pusat di Jakarta, meminta bantuan pengiriman tenaga relawan di bidang kesehatan dari luar bumi cenderawasih.
“Sebab kemarin informasi dari Mendagri sudah ada ribuan orang yang mendaftar sebagai relawan kesehatan. Mereka ada juga di Makassar dan Manado serta sudah siap ditempatkan ke mana saja”.
“Oleh karenanya, kita berharap para relawan kesehatan ini bisa ditempatkan ke Papua guna mengisi posisi tenaga kesehatan di sejumlah rumah sakit yang sudah terpapar virus corona,” ucap ia.
Semetara terkait harga rapid test di rumah sakit mitra pemerintah yang masih mahal atau diatas Rp350 ribu, Musa’ad katakan telah ada kesepakatan untuk mengikuti harga yang ditetapkan pemerintah pusat.
“Namun karena rumah sakit mitra seperti RS. Provita ini sudah terlanjur kemarin membeli dengan harga mahal dan sulit lagi, makanya stoknya harus dihabiskan dulu. Nanti setelah sudah habis maka seluruh rumah sakit mitra ini akan mengikuti harga yang ditetapkan pemerintah,” terang ia.
Sebelumnya ramai di media sosial bereda pengumuman dari RS. Bhayangkara dan RS. Provita yang mesti menutup sementara pelayanan pasien umum dan Covid-19, karena kekurangan tenaga kesehatan dan ruang perawatan penuh.
The Provincial Government of Papua asks all hospitals not to close access to healthcare apart from the limitations of health workers and the full capacity of treatment rooms.
On duty, the Regional Secretary of Papua of Papua Muhammad Musa'ad hopes that despite only providing a small emergency room, health services for general patients and Covid-19 must still run 1x24 hours.
"We have already had meetings with all hospital management, including Bhayangkara and Provita Hospital stated that it temporarily closed general patient services and Covid-19 due to its health workers being exposed to the corona virus and full treatment room. Overcoming service constraints in various hospitals, it has instructed the health department to check the existing deficiencies, so that further efforts are made to deal with.” He explained.
Furthermore, Papua provincial government will write to the Central Task Force in Jakarta, requesting the assistance of sending volunteers in the field of health from outside the land of Cenderawasih.
The Minister of Home Affairs informed that there are thousands of people who register as health volunteers. They are also in Makassar and Manado and ready to be placed anywhere"
Therefore, we hope that these health volunteers can be placed in Papua to fill the position of health workers in some hospitals that have been exposed to the coronavirus.
Related to the price of rapid tests at government partner hospitals which are still expensive or above IDR 350.000, Musa'ad said there had been an agreement to follow the prices set by the Central Government.
However, the partner hospital such as the Provita Hospital had already bought it at a high price and was limited, the stock had to be spent first. After all of these partner hospitals will follow the government-defined price, "he explained.
Earlier, social media reported that Bhayangkara and Provita Hospital had to temporarily close general patient services and Covid-19, due to lack of health workers and full treatment rooms.
Tentang Penulis
Tim Redaksi Pemprov Papua
-