papua
  • Visi Papua 2013-2018

    Visi Papua 2013-2018
    Papua Bangkit Mandiri dan Sejaterah 

  • Hari Anti Korupsi 9 Desember 2016

    Hari Anti Korupsi 9 Desember 2016

INFO STATISTIK Total Jumlah Penduduk Papua hasil SP 2010 adalah sebesar 2.833.381 jiwa       Kabupaten Biak Numfor : Jumlah Penduduk 126.798 Papua 48.021 Non Papua 17.579 Total 65.600       Kabupaten Asmat : Jumlah Penduduk 76.577 Papua 35.592 Non Papua 4.628 Total 40.220       Kabupaten Boven Digoel : Jumlah Penduduk 55.784 Papua 19.401 Non Papua 11.007 Total 30.408       Kabupaten Deiyai : Jumlah Penduduk 62.119 Papua 32.087 Non Papua 304 Total 32.391       Kabupaten Dogiyai : Jumlah Penduduk 84.230 Papua 42.051 Non Papua 491 Total 42.542       Kabupaten Intan Jaya : Jumlah Penduduk 40.490 Papua 20.709 Non Papua 36 Total 20.745       Kabupaten Jayapura : Jumlah Penduduk 111.943 Papua 35.621 Non Papua 23.906 Total 59.527       Kabupaten Jayawijaya : Jumlah Penduduk 196.085 Papua 90.618 Non Papua 10.599 Total 101.217       Kabupaten Keerom : Jumlah Penduduk 48.536 Papua 10.458 Non Papua 16.068 Total 26.526       Kabupaten Kep Yapen : Jumlah Penduduk 82.951 Papua 32.815 Non Papua 10.150 Total 42.965       Kabupaten Lanny Jaya : Jumlah Penduduk 148.522 Papua 79.608 Non Papua 83 Total 79.691       Kabupaten Mamberamo Raya : Jumlah Penduduk 18.365 Papua 8.979 Non Papua 784 Total 9.763       Kabupaten Mamberamo Tengah : Jumlah Penduduk 39.537 Papua 21.213 Non Papua 114 Total 21.327       Kabupaten Mappi : Jumlah Penduduk 81.658 Papua 37.326 Non Papua 5.439 Total 42.765       Kabupaten Merauke : Jumlah Penduduk 195.716 Papua 37.731 Non Papua 65.347 Total 103.078       Kabupaten Mimika : Jumlah Penduduk 182.001 Papua 41.388 Non Papua 61.639 Total 103.027       Kabupaten Nabire : Jumlah Penduduk 129.893 Papua 32.850 Non Papua 36.519 Total 69.369       Kabupaten Nduga : Jumlah Penduduk 79.053 Papua 42.721 Non Papua 376 Total 43.097       Kabupaten Paniai : Jumlah Penduduk 153.432 Papua 77.979 Non Papua 2.458 Total 80.437       Kabupaten Pegunungan Bintang : Jumlah Penduduk 65.434 Papua 33.422 Non Papua 1.883 Total 35.305       Kabupaten Puncak : Jumlah Penduduk 93.218 Papua 48.885 Non Papua 375 Total 49.260       Kabupaten Puncak Jaya : Jumlah Penduduk 101.148 Papua 53.685 Non Papua 1.094 Total 54.779       Kabupaten Sarmi : Jumlah Penduduk 32.971 Papua 12.190 Non Papua 6.067 Total 18.257       Kabupaten Supiori : Jumlah Penduduk 15.874 Papua 8.008 Non Papua 334 Total 8.342       Kabupaten Tolikara : Jumlah Penduduk 114.427 Papua 61.120 Non Papua 681 Total 61.801       Kabupaten Waropen : Jumlah Penduduk 24.639 Papua 10.707 Non Papua 2.430 Total 13.137       Kabupaten Yahukimo : Jumlah Penduduk 164.512 Papua 85.234 Non Papua 1.501 Total 86.735       Kabupaten Yalimo : Jumlah Penduduk 50.763 Papua 26.753 Non Papua 232 Total 26.985       Kota Jayapura : Jumlah Penduduk 256.705 Papua 47.987 Non Papua 88.600 Total 136.587      

Kabupaten Sarmi

Padang Lamun

      Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan bahari. Hidupnya di perairan yang dangkal agak berpasir, daerah terumbu karang dan membentuk komunitas yang tebal, sehingga dapat menjadi padang lamun yang luas. Ekosistem ini merupakan ekosistem bahari yang produktif, sehingga dapat mendukung kehidupan dari ebrbagai jenis tumbuhan dan hewan dengan cara memberikan tempat untuk menempel, bernaung dan menyediakan makanan. Dipesisir Kabupaten Sarmi, padang lamun secara luas berasosiasi dengan terumbu karang. Padang lamun yang subur terdapat di kawasan perairan Kepulauan Kumamba, terutama di Pulau Liki dan Pulau Armo, sedangkan pada perairan lain komunitas lamun tidak berkembang denganbaik. Pengaruh aliran sungai yang berasal dari daratan yang membawa padatan tersuspensi sebagai penyebab kurang berkembangnya lamun di beberapa pulau (wakde, podena, Yamna). Padang Lamun lebih banyak didominasi oleh Thalasia sp dan Enhalus sp. Jenis lain yang juga ditemukan adalah Cyrnodoceaes sp dan Syringodinium sp. Pada daerah yang senantiasa mendapat gempuran ombak, komunitas lamun tidak berkembang dengan baik. Kondisi padang lamun umumnya belum banyak mengalami gangguan sehingga tmapak masih utuh.
     
    Padang lamun umumnya merupakan habitat utama ikan duyung, disamping bulu babi, penyu laut, dan bernagai jenis ikan seperti baronang dan kaktua, serta teripang. Selain itu, padang lamun juga mempunyai peranan dalam mengurangi pendangkalan (siltasi) yang berasal dari daratan yang dapat berakibat buruk terhadap komunitas karang. Kalau dilihat dari fungsinya sebagai penyaring, berarti ekosistem ini dapat mencegah terjadinya kerusakan pada ekosistem karang. Karena itu, ekosistem ini penting sekali dipertahankan, baik untuk menjaga potensi keberlangsungan ekosistem secara menyeluruh dengan terumbu karang, maupun untuk mempertahankan produktivitas biota lain yang hidup berasosiasi dengan padang lamun. 

Terumbu Karang

        Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem khas perairan pesisir tropik, yang ditandai dengan keanekaragaman jenis biota tinggi yang hidup didalamnya. Biota yang hidup di terumbu karang merupakan satu komunitas yang teridiri dari berbagai tingkatan trofik. Masing-masing komponen dalam komunitas ini saling tergantung satu sama lain, sehingga terumbu karang merupakan suatu ekosisitem dengan struktur trofik yang lengkap. Sebagai suatu lingkungan hidup, ekosistem terumbu karang sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal, mencari makan dan berkembang biak dari biota-biota yang hidup berasosiasi dengan karang (Nybakken, 1992). Dipulau pesisir Kabupaten Sarmi, karang berkembang dengan baik pada beberapa pulau seperti Pulai Liki, Pulai Armo dan Pulau Masimasi, sedangkan pada beberapa pulau lain dan daerah daratan utama (main land) karang tidak berkembang dengan baik. Keruhnya perairan dan adanya limpasan air sungai yang masuk ke perairan laut dapat menghambat pertumbuhan dan penyebaran karang pada daerah ini. 

      Hasil survei menunjukan bahwa presentase penutupan karang hidup yang paling tinggi ditemukan Pulau Masimasi, Armo, Liki dan Wakde. Jenis-jenis bentuk dasar perairan Kabupaten Sarmi.

Perikanan Tangkap

Gambaran Umum

       Perairan Kabupaten Sarmi terletak di sebelah utara Papua dan langsung berhubungan dengan Laut pasifik, Kondisi seperti ini menyebabkan daerah ini lebih cenderung di pengaruhi oleh aktivitas dari lautan tersebut, disamping pengaruh-pengarih yang berasal dari aliran sungai-sungai yang ada di sepanjang pesisir.
Kawasan pesisir Kabupaten Sarmi merupakan perairan yang kaya akan sumberdaya perikanan dan kelautan. Hal ini dapat terlihat dari berbagai ekosistem yang ada seperti padang lamun, terumbu karang dan mangrove, yang berfungsi sebagai tempat memijah (spawning ground), membesarkan (nursey ground) dan berlindung (hiding ground) dari berbagai jenis biota penghuni ekosistem tersebut. Beberapa pulau kecil yang terdapat jenis dikawasan Kabuapten Sarmi, baik berpenghuni maupun tidak, dapat dimanfaatkan sebagai kawasan wisata bahari dan kegiatan budidaya perairan. Beberapa pulau secara fisik sangat terlindung dari pengaruh ombak karena sekelilinh pulaunya terdapat terumbu karang tepi (Fringing reef).

       Sumberdaya ikan dan non ikan dari kawasan Kabupaten Sarmi telah lama dimanfaatkan baik secara tradisional maupun komersial. Nelayan tradisional biasanya memanfaatkan sumberdaya tersebut secara subsisten, dan dilakukan secara turun temurun dengan menggunakan alat tangkap yanga sederhana. Pemanfaatan sumberdaya perikanan dengan corak komersial telah berlangsung beberapa dekade terkahir, dengan orientasi kegiatan perikanan tangkap udang. Kehadiran beberapa perusahaan komersial seperti PT. Bintang Mas dari Jayapura, dan berbagai perusahaan yang berasal dariS orong (PT. Alfa Kurnia dan PT. Binama) telah sedikit mendorong perubahan orientasi masyarakat di daerah ini dalam memanfaatkan sumberdaya perikanannya. Selanjunya, kehadiran beberapaq perusahaan yang memperoleh Hak Pengusahan (HPH) sejak tahun 1980-an telah sedikit mendorong perubahan orientasi masyarakat di daerah ini dalam memanfaatkan sumberdaya perikanannya.

      Walaupun matapencaharian sebagai nelayan di Kabupaten Sarmi tidak diketahuidengan pasti karena pekerjaan uatam penduduk di distrik ini adalah berburu di hutan. Kegiatan perikanan tangkap dilakukan oleh penduduk hanya sebagai pekerjaan sambilan dan tidak bersifat komersial. Bahkan sebagian warga di Desa Kasonaweja membeli ikan asin dari Desa Kapeso atau Desa Bagusa di Distrik Mamberamo Hilir unutk memenuhi kebutuhan ikan rumahtangganya. Saat ini hasil tangkapan yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumahtangganya melainkan sebagiannya dijual ke perusahaan-perusahaan HPH yang ada dan sebagian dijual ke masyarakat sekitarnya, dengan pangsa pasar yang sangat terbatas.

Daerah Penangkapan

         Lokasi penangkapan ikan serta non ikan baik bagi nelayan tradisional maupun komersial dapat dibedakan atas beberapa wilayah, yaitu (1) Perairan lepas pantai yang merupakan lokai penangkapan nelayan komersial, (2) Sepanjang pesisir pantai yang merupakan lokasi penangkapan nelayan lokal dan kapal komersial penangkap udang, (3) daerah terumbu karang yang merupakan lokasi penangkapan nelayan lokal dan komersial, (4) Lagun yang merupakan lokasi penangkapan nelayan lokal pada perairan tawar.Bagi nelayan tradisional, daerah penangkapan ikan umumnya berdekatan dengan daerah pemukiman mereka, dan hal ini berhubungan pula dengan alat transportasi yang digunakan masih sangat sederhana (sampan) sehingga tidak dapat menjangkau daerah-daerah penangkapan yang agak jauh.Bagi nelayan yang telah melengkapi perahunya dengan motor tempel dapat menjangkau daerah tangkapan yang jauh dengan waktu tempuh yang lebih singkat serta produksi tangkapan yang tinggi. Selain nelayan lokal, sumberdaya perikanan yang terdapat di Kabupaten Sarmi dimanfaatkan pula oleh nelayan pendatang yang umumnya berasal dari Bugis, Buton dan Makasar. Nelayan ini sudah lebih maju dalam peralatan maupun tehnik penangkapan. Mereka menggunakan kapal-kapal kayu yang bermotor untuk menangkap ikan, dengan daerah penangkapan meliputi perairan pesisir dan perairan yang agak dalam.

         Lokasi penangkapan di laguna, estuari dan sungai kecil tidak dikenal musim penangkapan. Pada daerah penangkapan tersebut nelayan tidak mengenal bulan-bulan istirahat dalam menangkap ikan pada setiap tahun. Ini disebabkan perairan tersebut terlindung dari pengaruh musim angin barat, sehingga nelayan dapat melakukan aktivitas penangkapan sepanjang tahun. Pola penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan yaitu dengan melihat kondisi pasang surut. Kegiatan penangkapan ikan umumnya dilakukan pada saat surut. Alat transportasi yang digunakan adalah perahu dayung ukuran kecil yang hanya memuat untuk dua orang. Alat tangkap yang digunakan adalah jaring insang (Gillnet) yang digunakan untuk menangkap ikan dan alat pengait berbentuk cagak untuk menangkap kepiting. Lokasi penangkapan pada perairan tawar (danau) juga tidak mengenal musim penangkapan dan sepanjang tahun masyarakat dapat melukan kegiatan penangkapan, akan tetapi karena jauhnya lokasi penangkapan dari pemukiman penduduk sehingga kegiatan penangkapan pada periaran ini jarang dilakukan.
Musim Penangkapan

       Pada beberapa lokasi penangkapan dikenal adanya musim penangkapan selama satu tahun, terutama pada perairan yang terbuka dengan Samudra Pasifik. Selama satu tahun dikenal dua kali terjadi pergantian musim, yakni musim angin barat (musim ombak) dan musim angin timur (Musim teduh). Pada musim angin barat, kondisi perairannya berombak dan disertai dengan angin kencang, sehingga nelayan lebih banyak tidak melaut dan melakukan pekerjaan-pekerjaan didarat (berkebuna). Berbeda halnya dengan musim angin timur, kondisi perairannya relatif tenang sehingga nelayan lebih mudah menjangkau daerah penangkapan dengan resiko yang kecil dan biasanya hasil tangkapnnya berlimpah. Walaupun ada pengaruh musim, pada beberapa lokasi kegiatan penangkapan masih dapat dilakukan terutama pada perairan yang agak terlindung, seperti perairan terumbu karang, daerah teluk, sungai-sungai kecil. Posisi pulau dan esturi yang strategis cukup memberikan perlindungan kepda nelayan tradisional utnuk memanfaatkan sumberdaya perikanan dengan perahu sampan yang kecil.

           Pada bulan Juni ? September (pada musim Timur) merupakan musim kegiatan penangkapan yang memungkinkan nelayan untuk mendapatkan hasil penangkapan yang cukup banyak. Sedangkan pada bulan Oktober ? Desember (pada musim Barat) kegiatan penangkapan ikan oleh masyarakat hampir tidak dilakukan karena gelombang yang besar dan angin dilaut yang cukup kencang. Selain musim, aktivitas kegiatan harian nelayan lebih bnayak ditentukan oleh pengaruh pasang surut. Pada saat surut sebagian daerah sungai dan esturi akan mengalami kekeringan sehingga ikan lebih terkonsentrasi pada daerah tertentu, dan hal ini membuat kegiatan penangkapan menjadi lebih mudah. Kondisi surut ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memasang perangkap pada sungai-sungai kecil.

Jenis-Jenis Hasil Penangkapan

          Hasil perikanana di kawasan Kabupaten Sarmi terdiri dari berbagai jenis ikan baik yang berasal dari perairan laut, esturi dan air tawar. Ikan air tawar yang dominan yang terdapat pada beberapa sungai di Kawasan Kabupaten Sarmi adalah ikan gabus dan ikan sembilang (Arius spp), sedangkan jenis ikan yang hidup pada perairan esturi berasal dari jenis-jenis ikan yang dapat bertahan hidup terhadap perubahan salinitas yang ekstrim dan lebih bersifat sebagai penghuni tidak tetap (sedentary organism), misalnya bobara (Carangoides sp.) dan bulanak (Mugil cephalus) serta Bandeng (Chanos chanos). Sebagai tambahan, Conservation International Program Papua (2002) mencatat jenis ikan tawar sebanyak 23 jenis ditemukan di sekitar Sungai Mamberamo, yaitu Anguila bicolor, arius solidus, Arius uterus, Arius velutinus, Neosilurus novaeguinea, Chilaterina fasciata, Glossolepis multisquamatus, Melanotaenia praecox, Melanotaenia vanheurni, Hephaestus transmontanus, Glosamia beauforti, Giurus margaritaceus, Mogunda nesolepis, Oxyyeleotris fumbriata, Axyeleotris heterodon, Eugnathogobius tigrellus, Glossogobius bulmeri, Glossogobius koragensis, Cyprinus caprio, Barbodes gonionotus, Puntius orphoides, Clarias batrachus, Oreochromis mossambica.

           Kepiting juga merupakan produk tangkapan nelayan lokal yang umu dijumpai di Kawasan Kabupaten Sarmi. Kepiting yang bernilai ekonomis penting terdistribusi pada perairan esturi (mangrove) dan perairan laut, yaitu kepiting bakau (Sctlla serata) dan rajungan (Potunus sp). Kepiting bakau umumnya ditangkap dengan alat pengait yang terbuat dari bahan logam tetapi kadangkala juga tertangkap dengan jaring, sedangkan rajungan lebih banyak tertangkap dengan jaring insang dasar. Komoditi perikanan lain dari kawasan Kabupaten Sarmi adalah lobster yang terdiri dari dua jenis Udang Jarak Panulirus polyphagus Udang Bunga/Raja P. Longicep. Duan Jenis ini sudah diusahakan secara ekonomis oleh nelayan-nelayan di Pulau Wakde dan Liki, dan di Pulau Wakde sendiri sudah ada pedagang pengumpul local yang siap menampung hasil tangkapan nelayan. Untuk mendapatkan lobster ini dilakukan dengan cara menyelam.

         Dari berbagai jenis moluska yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah cumi-cumi (Loligo sp), sotong (Sepia sp) dan berbagai kerang-kerangan baik yang ditemukan di daerah bakau maupun di terumbu karang seperti Nerita sp, Litorina sp, Tebrallia, Strombus sp dan Telescopium sp serta Trocus niloticus. Khusus untukTrocus niloticus (bia lola), masyarakat di Pulau Liki sudah memanfaatkannya secara komersila, dan juga telah menerapkan pola konservasi tradisional yang dikenal dengan ?Abonfan Matilon?. Abonfan Matilon merupakan kegiatan penutupan wilayanlaut dalam jangka waktu tertentu dari kegiatan penangkapan bia lola dengan maksud untuk memberikan kesempatan kepada boita tersebut berkembangbiak. Penutupan dan Pembukaan kembali kegiatan penangkapan bia lola tersebut dilakukan melalui upacara rital adat yang dipimpin oleh ketua adat atau kepala kampung. Kearifan lokal ini masih terus dijalankan secara konsekuen oleh masyarakat di Pulau Liki (Kepulauan Kumamba) terutama untuk jenis bia lola. Kearifan Lokal dapat dilihat dari aspek waktu. Waktu regenerasi untuk bia lola adalah dua tahun, jika lenih dari dua tahun maka bia lola telah melampaui umur panen dan akan mati. Mutu cangkangnya menjadi berkurang karena warnanya menjadi hitam, aspek lain dari kearifan tersebut adalah sumberdaya alam tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama misalnya untuk memabngaun gereja, untuk menyelenggarakan sidang gereja atau untuk keperluanlainnya. Aspek lain dari kearifan local tersebut adalah membangun kebersamaan antar warga kampung dalam mengelola sumberdaya tersebut. Selanjutnya, pola konservasi tradisionil ini perlu dilestarikan dan bila mungkin perlu dikembnagkan untuk jenis biota laut lainnya serta dapat pula menjadi salah satu obyek wisata budaya.

Teknologi Penangkapan

Jenis Alat Tangkap

      Kegiatan perikanan di Kawasan Kabupaten Sarmi masih tergolong sangat sederhana. Alat tangkap yang digunakan masih sangat sederhana dan telah dipraktekan secara turun-temurun, seperti tombak, seser dan sero tanam. Walaupun demikian beberapa peralatan tangkap yang sudah tergolong maju diadopsi untuk meningkatkan produktivitas tangkapan nelayan, yaitu penggunaan jaring pancing dan menggunakan perahu bermotor.

       Jenis alat tangkap yang dijumpai hampir pada semua kampung yang disurvei adalah pancing dan jaring insang. Perairan ini biasa digunakan oleh nelayan yang bermukim di daerah pantai dan pulau-pulau kecil, terutama di Bonggo, Bataf dan Sarmi serta beberapa pulau seperti Pulau Liki, Podena dan Pulau Wakde. Selain kemudahan untuk mendapatkan peralatan-peralatan tersebut, harganya juga masih dapat dijangkau oleh nelayan yang berpendapatan rendah, sedangkan pada daerah-daerah pemukiman yang terletak di pinggiran sungai digunakan alat tangkap tombak dan seser. Peralatan ini biasanya dibuat sendiri dengan menggunakan bahan yang secara alamiah terdapat pada setiap daerah pemukiman. Peralatan tangkap diatas umumnya digunakan oleh nelayan yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan terbatas . Rata-rata kepemilikannya adalah 10 -20 unit perkampung setiap daerah survei. Jaring yang digunakan disesuaikan dengan target ikan yang ditangkap, dengan tipe jaring insang dasar, permukaan dan hanyut.

         Alat tangkap sero dan seser dioperasikan dengan memotong muara-muara kali kecil atau kanal-kanal, dengan menggunakan tiang-tiang kayu atau lembaran jaring. Pengoperasikan alat ini biasanya memanfaatkan gerakan pasang surut air laut. Ikan-ikan yang masuk ke sungai-sungai (kanal) kecil akan terperangkap pada saait air laut surut, dan dengan bantuan seser ikan-ikan yang terperangkap juga dalam kubangan-kubangan kecil yang ikut memudahkan dalam proses pengumpulan hasil tangkapan. Disamping alat tangkap yang dioperasikan oleh nelayan tradisional, terdapat juga alat tangkap trawi yang dioperasikan oleh PT. Bintang Mas Jayapura. Perusahaan ini mengoperasikan armada kapal pukat udang (shrimp trawler) sebanyak 20-30 unit dengan ukuran 30-50 GT. Teknologi penangkapan, pengetahun dan ketrampilan yang terbatas serta serapan pasar yang masih rendah, menyebabkan produksi perikanan oleh nelayan lolkal masih sangat terbatas. Hasil survei menunjukan bahwa produksi hasil tangkapan per rumah tangga nelayan pada setiap trip berkisar antara 4,5 kg-15 kg (rata-rata tangkapan 7,5 kg), sedangkan produksi kepiting bakau berkisar antara 6-40 ekor (rata-rata tangkapan 17 ekor, dengan berat rata-rata 150 g/ekor), lobster berkisar antara   3-41 ekor (rata-rata tangkapan 14 ekor). Bila lola (Trochusnoloticus) merupakan produk perikanan yang secara komersial memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Prouduksi tangkapan per trip dapat mencapai 3-5 kg. Salah satu perusahaan yang secara komersial memanfaatkan hasil perikanan adalah PT. Bintang Mas Jayapura. Perusahaan ini mengfokuskan usahanya untuk penangkapan udang terutama dari jenis udang putih (Penaeus merguensis). Namun demikian berbagai jenis komoditi perikanan juga ikut tertangkap, di antaranya ikan kakap dan jenis ikan lain yang tidak bernilai ekonomis penting. Data yang dikumpulkan dari PT. Bintang Mas Jayapura menunjukan bahwa selama empat tahun terakhir (1999-2003) telah terjadi penurunan produksi tangkapan untuk semua kategori komoditi hasil tangkapan yang memiliki nilai ekonomis penting. Sebaliknya untuk kategoro hasil tangkapan sampingan (by catch) mengalami kenaikan produksi. Hal ini mengindikasikan bahwa untuk komoditi udang yang ditangkap dari perairan Pesisir Sarmi telah mengalami gejala over-fishing.

Isu-Isu Penting

1.Kegiatan Perikanan masih berskala tradisional dengan orientasi perikanan tangkap, sehingga produksi tangkapan nelayan masih rendah.
2.Pengusahaan kegiatan perikanan komersial masih mengalami kendala beripa terbatasnya daya serap pasar lokal, sedangkan kegiatan pemasaran keluar daerah masih mengalami kendala transportasi.
3.Ketrampilan nelayan belum memadai dalam upaya mereka meningkatkan produksi hasil tangkapannya.
4.Terdapat indikasi penurunan produksi udang di sekitar perairan Sarmi. Optimalisasi kegiatan perikanan tangkap komersial perlu dilakukan sehingga kelestarian udang dapat dipertahankan.
5.Kearifan lokal masyarakat di Kepulauan Kumamba (Pulau Liki, Pulau Kososng dan Pulau Ormu) dalam mengatur panenan Bio Lola yang disebut    ? Abonfan Matilon ? perlu dipertahankan dan dilestarikan, bahkan bila memungkinkan dikembangkan untuk komoditas biota lain sehingga kelestarian sumberdaya laut dapat dipertahankan.
Jumlah jenis ikan karang yang berhasil ditemukan di daerah Sarmi khususnya di enam pulau yang diteliti adalah sebesar 98 jenis yang termasuk di dalam 28 suku. Jumlah total kelimpahan individu ikan pada 7 stasiun Line Intercep Trnsect (LIT) adalah sebanyak 1.569 ekor pada areal seluas 1.750 m2 atau dengan kata lain kepadatannya sekitar 0,896 ekor/m2 Dari hasil pengamatan yang dilakukan pada ketujuh stasiun tersebut yakni 4 stasiun pada sisi utara (P. Liki dan sekitarnya) yang letaknya jauh dari daratan Sarmi dan 3 stasiun pada sisi dekat dengan daratan Sarmi (P. Wakde dan sekitarnya). Terlihat bahwa tingkat keanekaraganab jenis ikan lebih tinggi pada Pulau yang letaknya jauh dari pengaruh daratan dibandingkan dengan Pulau yang letaknya dekat dengan daratan besar (main land). Pulau Wakde sangat mendapat pengaruh yang sangat besar dari Sungai Tor pada musim Barat. Pulau Liki memiliki jumlah jenis yang tertinggi yakni mencapai 51 jenis, hal ini ada kaitannya dengan posisi pulau ini yang jauh dari pengaruh daratan. Pulau Liki ini juga mempunyai potensi yang cukup menarik sebagai daerah selam karena realtif memiliki tingkat kecerahan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan beberapa pulau lain.

Tabel Persentase Penutupan Karang pada beberapa Pulau Perairan Pantai Kabupaten Sarmi 



          Jumlah jenis ikan major yang ditemukan di perairan Sarmi adalah 67 jenis yang termasuk dalam 17 suku. Suku Pomacentridae yang terdiri dari 22 jenis dan sukuLabridae dengan 11 jenis, merupakan dua suku yang memiliki jumlah jenis terbanyak di dalam struktur komunitas ikan karang yang ada Perairan Sarmi. Jenis ikan yang umumnya ditemukan hampir di semua lokasi adalah jenis Centrpyge vroklikii, Halichoeres hortulanus, Bodianus meothoraxs. Hal yang menarik adalah ditemukannya beberapa jenis ikan hias yang memilki nilai jual yang tinggi seperti Pyogoplites diacanthuss (Enjiel biru), Balistoides conspiculum (Ikan trige kembang) dan Paracathurus hepatus (Letter enam). Ikan Letter enam ini ditemukan hampir di setiap lokasi pengamatan di daerah perairan sebelah Sarmi (P. Liki dan sekitarnya), sehingga kelangsungannya perlu dijaga dari perangkap ikan hias, karena ikan ini termasuk dalam golongan ikan hias yang mahal (Kelas A).


        Jumlah jenis ikan target yang ditemukan di perairan Sarmi adalah 19 jenis yang termasuk dalam 11 suku. Beberapa janis ikan target ekonomis penting ditemukan seperti kerapu (Cephalopolis urodeta dan Epinephelus fasciatus), ekor kuning (Caesio cunning), kakap (Lutjanus fulviflamma) dan maming (Cheilinus undulatus). Jumlah jenis ikan indikator yang ditemukan pada daerah ini sebanyak 12 jenis khususnya pada daerah sebelah Utara Sarmi (P. Liki dan Sekitarnya). Namun untuk daerah yang lebih dekat dengan daratan Sarmi (P. Wakde dan sekitarnya) kehadiran ikan ini hanya berkisar antara 2-3 jenis.


Isu-Isu Penting

1.   Ekosistem terumbu karang pada beberapa pulau, terutama di Kepulauan Kumamba dapat dikelola menjadi wisata bahari dengan pendekatan ekowisata.

2.   Perairan terumbu karang pada beberapa pulau seperti Podena, Maimasi dan Wakde serta Yanma sangat keruh pada musim barat, sehingga terumbu karang tidak berkembang biak.


Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan 2013